Babe Haikal ‘Meledak’: Teriak Emosional & Kritik Orang yang Hina Prabowo, Ini Kata Lengkapnya!

Editor BMI

31/01/2026

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hassan, meluapkan kekesalannya terkait sikap segelintir pihak yang menurutnya terus menghina dan memaki Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah momen retret kedua yang digelar di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Dalam acara itu, Haikal menceritakan bagaimana Prabowo beberapa kali mengutip ayat Al-Qur’an tentang bahaya fitnah, yakni bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kutipan tersebut disampaikan Prabowo dalam dua kesempatan berbeda selama retret berlangsung. Menurut Haikal, pesan itu bukan sekadar retorika, tetapi peringatan moral yang penting bagi seluruh elemen bangsa untuk menjaga tutur kata dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Haikal pun berbicara tentang beberapa pengalaman yang membuatnya merasa perlu menanggapi isu penghinaan terhadap Prabowo secara terbuka. Dia mengatakan bahwa Prabowo bukan hanya seorang pemimpin yang bekerja keras, tetapi juga figur yang mengingatkan anak buahnya untuk menjalankan ibadah dengan baik. Hal ini, kata Haikal, seharusnya menjadi alasan bagi masyarakat untuk merasa bangga memiliki seorang pemimpin yang tidak hanya fokus pada administrasi pemerintahan, tetapi juga memberi perhatian pada aspek spiritual.

“Kemarin pada waktu retret, apa yang disampaikan beliau adalah sebuah ayat Al-Qur’an yang sangat dalam maknanya. Beliau mengatakan Al‑fitnatu asyaddu minal‑qatl – fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Itu bukan sekadar kata-kata, tetapi pesan moral yang sangat tajam,” ujar Haikal.

Haikal mengaku sempat emosional ketika berbicara tentang hal ini. Ia mempertanyakan kenapa masih ada pihak yang terus menghina, menyindir, dan memaki Prabowo, padahal dalam berbagai kesempatan presiden sudah menunjukkan figur yang tegas dan peduli terhadap kesejahteraan rakyat. “Apa tidak bangga punya Presiden seperti itu? Saya agak emosional karena terus saja dihina, terus saja dinyinyir, terus saja dimaki,” kata Haikal dalam video yang beredar.

Pernyataan Haikal ini datang di tengah situasi politik yang makin dinamis di Indonesia. Belakangan, sejumlah elit politik dan tokoh publik sering menjadi sorotan karena pernyataan mereka di media sosial atau forum publik yang memicu pro-kontra di masyarakat. Isu kritik terhadap pemerintahan sampai penghinaan terhadap figur pimpinan negara sering menjadi bahan diskusi hangat di berbagai platform.

Sikap Haikal yang membela Prabowo bukan hal yang sepenuhnya baru. Sebelumnya, saat dilantik sebagai kepala BPJPH, beliau pernah menekankan pentingnya membangun suasana yang sehat dan produktif di tengah masyarakat tanpa hoaks atau potongan-potongan video yang bisa memperburuk suasana. Dalam beberapa kesempatan, Haikal juga mengingatkan agar media dan publik berhati‑hati dalam mengutip pernyataan yang bisa disalahartikan atau dipotong konteksnya.

Kepedulian Haikal terhadap penghinaan terhadap pemimpin negara juga sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo sendiri. Prabowo sebelumnya pernah mengungkapkan keterkejutannya terhadap sikap segelintir elite atau kelompok masyarakat yang menurutnya lebih piawai menghujat dan menyebarkan fitnah melalui media sosial ketimbang mengapresiasi usaha dan pencapaian pemerintahan. Ia menilai perilaku seperti itu menunjukkan “kesehatan sosial” yang perlu diperbaiki.

Meski begitu, kritik terhadap pemerintah atau pemimpin negara bukan hal yang asing dalam dinamika demokrasi. Banyak pihak melihat bahwa kebebasan berekspresi adalah bagian dari hak politik warganegara. Namun, batas antara kritik konstruktif dan penghinaan atau fitnah sering kali menjadi perdebatan tajam, terutama ketika menyangkut figur yang memiliki basis pendukung luas seperti Prabowo.

Dalam konteks ini, Haikal menegaskan bahwa kritik boleh disampaikan, tetapi harus dengan cara yang dewasa dan bertanggung jawab. Dia mengajak semua pihak untuk lebih menghormati proses demokrasi dan menghargai kinerja pemerintah, terutama dalam hal-hal yang berdampak langsung pada kesejahteraan publik.

Pernyataan Haikal juga menjadi momentum untuk menimbang ulang cara masyarakat berkomunikasi di ruang publik. Dengan hadirnya teknologi digital dan media sosial, komentar atau pandangan yang tajam bisa viral dalam hitungan menit dan berdampak luas baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, penting bagi setiap pihak untuk berhati‑hari dalam menyampaikan pendapat agar tidak menimbulkan perpecahan sosial.

Di tengah respons publik yang beragam, pernyataan Haikal tentang hinaan dan makian terhadap Prabowo memicu diskusi baru tentang batasan kebebasan berbicara serta pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan kritik terhadap tokoh publik. Apakah kritik itu bentuk dari demokrasi yang sehat atau justru jadi hal yang merusak persatuan, menjadi pertanyaan yang terus diperbincangkan di berbagai lapisan masyarakat.

Dengan demikian, sikap Haikal ini menunjukkan bagaimana dinamika politik dan sosial di Indonesia semakin kompleks, terutama ketika berkaitan dengan figur pemimpin dan respons publik terhadapnya. Pesan moral yang disampaikan melalui ayat Al-Qur’an tentang bahaya fitnah turut menjadi bahan renungan bagi banyak pihak mengenai cara terbaik berinteraksi dalam ruang publik yang semakin terbuka.